Remunerasi PNS 2014

Remunerasi PNS TNI POLRI & Tunjangan Kinerja

Opini : Mimpi Jadi PNS Sebabkan Produktivitas Memble

pns1 Opini : Mimpi Jadi PNS Sebabkan Produktivitas Memble

Opini : Mimpi Jadi PNS Sebabkan Produktivitas Memble
Ditulis Oleh M. Nizar Abdurrani | Dimuat di Harian The Globe Journal

Setiap ada penerimaaan Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) selalu saja pelamarnya membludak tidak karuan. Lowongan yang tersedia untuk tiap-tiap formasi berkisar antar 1 hingga 3 orang namun yang melamar bisa mencapai puluhan orang untuk formasi tersebut. Suatu ketika pernah ada formasi CPNS untuk sebuah jurusan dibuka untuk 2 orang. Saat ujian dilaksanakan ternyata untuk formasi tersebut saja terpaksa dibuka 3 kelas, yang masing-masing kelas berisi sekitar 20 orang. Jadi bisa dibayangkan lowongan untuk dua orang diperebutkan oleh 60 orang.

Saat ini di propinsi Aceh terdapat 106.985 Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang bekerja di berbagai dinas. PNS yang bekerja untuk tingkat Pemerintah Aceh sendiri sebanyak 8.451 orang, sedangkan yang bekerja di tingkat kabupaten/kota jumlah bervariasi. Daerah-daerah terbanyak PNS-nya, lima ribu ke atas, antara lain Banda Aceh, Pidie, Aceh Utara, Bireuen, Aceh Timur dan Aceh Besar (www. acehprov.go.id). Kalau kita bandingkan dengan jumlah penduduk Aceh yang berjumlah 4, 4 juta jiwa maka bisa dikatakan diantara 40 penduduk Aceh terdapat 1 orang PNS-nya. Apakah ini jumlah ideal atau tidak, namun setidaknya ini bisa memberikan gambaran betapa banyaknya para abdi negara di kehidupan kita.

Setiap tahun peminat CPNS tidak pernah berkurang malah cenderung meningkat. Hal ini bisa dimaklumi karena setiap tahunnya jumlah lulusan perguruan tinggi semakin banyak. Perguruan kini kini tersebar hingga kemana-kemana bahkan dalam kota kecamatan pedalaman sekalipun, dengan embel-embel kelas jauh.  Apalagi sejak formasi lulusan SMTA tidak dibuka lagi maka berbondong-bondonglah alumni putih abu-abu masuk kuliah. Benak mereka dipenuhi bayangan, tamat perguruan tinggi niscaya akan lebih mudah menjadi CPNS.

Tidak ada yang salah menjadi seorang CPNS, apalagi pada dasarnya menjadi abdi negara adalah suatu pekerjaan yang mulia. Suatu pekerjaan yang membutuhkan pengorbanan tinggi karena harus setia melayani masyarakat, kapan saja dan dimana saja. Namun ketika tujuan mulia tersebut berubah dan satu-satunya ladang pengabdian adalah di kantor pemerintah maka menjadi CPNS semacam “Perburuan sejati”. Disini harapan satu-satunya untuk mendapat kerja disematkan.

Apapun pekerjaan hakekatnya adalah sama saja, itu secara konsep. Tapi dizaman yang serba materialistis ini menjadi PNS adalah suatu tujuan untuk kemuliaan dunia. Ada banyak fasilitas dan kejayaan yang bisa didapatkan kalau anda menjadi PNS. Dapat gaji tetap tiap bulan tidak peduli berapa hari masuk kerja ataupun ada bencana apa yang menimpa daerah. Bisa mengajukan kredit hingga ratusan juta (tergantung pangkat) ke bank pelat merah hanya dengan mengandalkan gaji semata. Kredit yang cukup lumayan untuk sekedar membuka usaha sampingan ataupun membangun rumah yang nyaman. Tidak perduli apakah anda berkualitas atau tidak, memenuhi output pekerjaan atau tidak.

Paling sial anda tidak “dipakai” oleh atasan jika sebagai PNS ternyata tidak mampu bekerja sesuai harapan. Jam kerja yang tetap tapi fleksibel, ini susah mendefinisikannya karena walaupun jam kerja sudah pasti yaitu pukul 08.00 pagi hingga pukul 17.00 sore, selalu saja sangat banyak ditemukan manusia berseragam cokelat yang berkeliaran ditempat-tempat keramaian. Banyak sekali “kenikmatan” menjadi PNS.

Sampai-sampai para mertua pun selalu memprioritaskan anak muda bakal menantu adalah seorang PNS. Ataupun para orang tua, guru dan dosen mewanti-wanti anak didiknya agar belajar yang rajin supaya bisa diterima menjadi pegawai. Kalau ada pepatah yang mengatakan “belajarlah sejak dari ayunan hingga ke liang lahan”, maka pepatah yang sama bisa diterapkan,”Ajarlah anakmu jadi PNS sejak dari ayunan hingga ke PNS”. Seolah-olah pekerjaan lain di luar PNS bukanlah suatu pekerjaan riel. Banyak kisah tentang hal ini, mulai dari obrolan santai hingga ke perilaku manusia sendiri.

Bertemu dengan kawan lama, yang lama tidak berjumpa, biasanya yang ditanya perihal pekerjaan. “Dimana kerja sekarang?. “Ah, saya diswasta, bukan pegawai,”jawab yang ditanya dengan nada merendah. Ataupun seperti ini, “Kenapa ga ikut PNS? atau seperti ini,”Sambil nunggu buka pegawai, kerja saja dulu apa yang bisa”. Masih banyak lagi percakapan yang pada intinya mendukung seseorang menjadi PNS.

Mental manusia yang dididik “mulai dari ayunan hingga ke liang lahan menjadi PNS” mengakibatkan produktivitas mereka menjadi rendah. Memang belum ada penelitian ilmiah tentang hal ini, tetapi dari pengalaman bekerja di sektor swasta dengan berbagai anak muda menunjukkan bahwa mereka sekalipun sudah bekerja tetap saja menunggu kesempatan menjadi PNS. Saat berkerja di swasta mereka tidak mengeluarkan kreativitas terbaiknya atau hanya sekedar bekerja menjalani hidup. Tidak mau “mati-matian” menghidupkan sektor swasta tersebut agar lebih bisa maju, masih saja berebut mencari informasi lowongan CPNS setiap bulan Oktober hingga Desember.

Pernah ada kejadian, seorang direktur lembaga pendidikan swasta terpaksa menahan ijazah asli karyawannya karena kesal melihat tingkah mereka yang selalu saja ramai-ramai ikut tes pegawai negeri. Kalau sudah masa penerimaan PNS tiba, semangat bekerja karyawan dikantornya menurun, banyak yang minta izin dengan berbagai alasan. Belum lagi tingkat turn over pegawai yang tinggi menyebabkan si boss tidak bisa menyusun strategi bisnis jangka panjang. Benar-benar pusing tujuh keliling si boss dibuatnya, selalu saja terpaksa ia menerima pegawai baru tiap awal tahun jadinya.

Nafsu menjadi PNS bukan hanya menjangkiti anak muda yang pendidikannya sekedar S1 saja. Yang kuliah tinggi-tinggi S2 pun, baik di Eropa, Amerika dan Asia, masih saja berharap tamat kuliah bisa diangkat menjadi CPNS. Sepulang sekolah dari kampus ternama, jarang terlihat inovasi para alumni pasca sarjana ini di sektor swasta. Kalaupun ada biasanya sebatas menjalani pekerjaan antara sebelum dapat giliran menjadi pegawai tahun berikutnya. Produktivitasnya pun masih rendah, ini bisa dibuktikan dengan sedikitnya hasil karya mereka pasca sarjana secara independen, tanpa bergantung pada lembaga manapun.

Mimpi menjadi PNS membuat sebagian besar anak muda kita tidak mau mencurahkan pikiran habis-habisan untuk membangun sektor swasta. Tantangan yang besar di sektor ini sering menciutkan nyali para anak muda yang sudah terbiasa melihat hidup enak para pegawai. Perlu modal yang cukup apalagi mencari kredit bagi pemula susah. Perlu kreativitas tanpa batas, kerja keras tanpa jam kantor, tak ada gaji tetap apalagi tunjangan, pasti menjalani fase “hidup susah” dan sebagainya. Tapi jika dikerjakan sungguh hasilnya jauh lebih besar daripada jadi pegawai. Ini terbukti di negara-negara maju, katakanlah Singapura atau Jepang dimana pegawai negerinya sedikit dan sektor swastanya jauh lebih banyak.

Sudah saatnya kita menghentikan mimpi anak muda untuk menjadi PNS dan menggantikan mimpi tersebut dengan kerja keras untuk menghidupi sektor swasta. Hingga suatu saat nanti, apapun pekerjaannya, gajinya tetap memadai untuk hidup

Setuju ?

Sumber

Incoming search terms:

The Author

Remunerasi PNS

Terima Kasih anda telah mengunjungi situs RemunerasiPNS.Com. Kami akan selalu memberikan informasi terbaru mengenai remunerasi, tunjangan kinerja, penerimaan cpns, sekolah kedinasan, guru, perawat, TNI, POLRI, beasiswa, dll

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Remunerasi 2014 & Penerimaan CPNS 2014 © 2014 Frontier Theme
close

site tracking with Asynchronous Google Analytics plugin for Multisite by WordPress Expert at Web Design Jakarta.